Uncategorized

Jejak Ketekunan Mengantarkan Ibnu Amin Raih Gelar Doktor Hukum Islam dengan Predikat Cumlaude

CABENEWS SOSOK- Perjalanan panjang yang dipenuhi ketekunan, doa, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah akhirnya mengantarkan Ibnu Amin meraih gelar akademik tertinggi. Dalam Sidang Promosi Doktor yang berlangsung di Aula Pascasarjana Kampus II UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (18/06/2026), ia resmi menyandang gelar Doktor Hukum Islam setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji.

Pada sidang tersebut, Ibnu Amin dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude IPK 3.94 dan tercatat sebagai Doktor ke-429 Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang sejak program doktor diselenggarakan. Capaian ini semakin istimewa karena berhasil diraih dalam masa studi kurang dari tiga tahun.

Disertasinya yang berjudul “Nalar Hukum Sadd al-Zarī‘ah Larangan Nikah Sesuku dalam Tradisi Masyarakat Pariaman” mendapat apresiasi dari tim penguji karena dinilai memberikan kontribusi akademik terhadap pengembangan kajian hukum Islam dan hukum adat. Penelitian tersebut juga melahirkan model konseptual baru berupa Nalar Hukum Sadd al-Zarī‘ah Relasional–Genealogis, yang menjelaskan hubungan antara hukum adat dan hukum Islam dalam menjaga kemaslahatan sosial masyarakat.

Namun di balik keberhasilan akademik tersebut, tersimpan kisah perjuangan hidup yang panjang dan penuh makna.

Ibnu Amin lahir dan dibesarkan di Desa Sibak, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan M. Siin.S (Alm.) dan Hj. Hasiah.

Ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus pandai besi yang mengandalkan keterampilan tradisional untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara sang ibu merupakan ibu rumah tangga yang turut membantu menopang perekonomian keluarga dengan pernah berjualan sayur keliling dari rumah ke rumah di kawasan perumahan dan perkebunan PT DDP Ipuh.

Kehidupan keluarga yang sederhana mengajarkan arti kerja keras sejak usia dini. Cobaan besar datang ketika sang ayah meninggal dunia pada tahun 1995 saat dirinya baru berusia 16 tahun saat dia baru duduk di kelas 2 Madrasah Aliyah. Kehilangan sosok ayah di usia remaja menjadi pengalaman yang membentuk karakter, ketangguhan, dan semangat juangnya dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, semangat untuk menuntut ilmu tidak pernah padam. Sejak menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah hingga menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1), Ibnu Amin memilih tinggal di masjid dan mengabdikan diri sebagai garin (marbot).

Kehidupan di masjid menjadi ruang pembelajaran yang membentuk kepribadiannya. Selain belajar, ia menjalankan berbagai tugas pelayanan masjid, mulai dari menjaga kebersihan, mengumandangkan azan, membantu kegiatan keagamaan, hingga melayani kebutuhan jamaah. Pilihan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk belajar mandiri sekaligus membantu meringankan beban ekonomi keluarga.

Baginya, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga sekolah kehidupan yang mengajarkan kesederhanaan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteguhan hati.

Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawanya menapaki berbagai jenjang pendidikan tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister, ia melanjutkan studi pada Program Doktor Hukum Islam Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang.

Di tengah kesibukannya sebagai Pranata Humas Ahli Madya, Ketua Tim Humas IAIN Curup, serta berbagai aktivitas akademik dan organisasi profesi, ia tetap konsisten menjalani studi doktoralnya hingga tuntas. Ia juga dikenal aktif dalam pengembangan kehumasan perguruan tinggi dan dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua I Forum Humas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Indonesia.

Bagi Ibnu Amin, keberhasilan meraih gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademik pribadi. Lebih dari itu, capaian tersebut merupakan buah dari doa, pengorbanan, dan dukungan orang-orang yang telah membersamai perjalanan hidupnya.

“Gelar Doktor ini merupakan kado terindah yang saya persembahkan kepada orang-orang yang saya cintai dan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Terutama untuk ibu saya, Hj. Hasiah, yang dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati telah membesarkan kami dalam segala keterbatasan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau pernah berkeliling menjual sayur dari rumah ke rumah demi memastikan anak-anaknya tetap dapat bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.” ungkapnya dengan penuh haru, dan menyentuh usai sidang promosi.

“Gelar ini juga saya persembahkan untuk almarhum ayah saya, M. Siin.S, seorang petani dan pandai besi yang mengajarkan arti kerja keras, kejujuran, dan keteguhan hidup. Meskipun beliau tidak sempat menyaksikan hari yang membahagiakan ini, saya percaya doa, nilai-nilai kehidupan, dan perjuangannya selalu mengiringi setiap langkah yang saya tempuh.” Imbuh Ibnu Amin.

“Teruntuk keluarga saya, istri tercinta Dr. Lendrawati, S.Ag., S.Pd., M.A., yang selalu mendampingi setiap proses perjuangan ini dengan doa, kesabaran, pengorbanan, dan cinta yang luar biasa. Tidak mudah menjalani perjalanan akademik panjang tanpa dukungan keluarga. Begitu juga untuk anak-anak saya tercinta, Tenra, Faruq, Rafiq, Ima, Jesyia, dan Mumtaz. Kalian adalah sumber semangat yang membuat saya terus bertahan ketika lelah, terus melangkah ketika menghadapi kesulitan, dan terus percaya bahwa setiap perjuangan akan menemukan jalannya.” lanjutnya.

“Secara khusus saya juga mempersembahkan capaian ini kepada kakak saya Ahmad Yani, S.H.I., dan adik saya Ermayurneli yang senantiasa memberikan dukungan moral, doa, dan semangat selama perjalanan hidup dan pendidikan saya. Hari promosi doktor ini menjadi momen yang sangat emosional bagi keluarga kami karena bertepatan dengan genap 31 hari wafatnya adik tercinta kami. Di tengah rasa syukur atas capaian ini, kami juga mengenangnya dengan doa dan harapan agar Allah SWT melimpahkan rahmat dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.”ungkapnya.

“Saya juga mempersembahkan capaian ini kepada guru-guru saya sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, para dosen, sahabat, kolega, serta semua orang yang pernah membantu perjalanan hidup saya. Sesungguhnya keberhasilan ini bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan akumulasi dari doa, dukungan, keikhlasan, dan kebaikan banyak pihak yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu.” harapan nya.

“Jika hari ini saya berdiri sebagai Doktor Hukum Islam, maka itu bukan karena saya berasal dari keluarga yang berkecukupan. Saya hanyalah anak seorang petani dan pandai besi dari Desa Sibak yang pernah tinggal di masjid sebagai garin demi melanjutkan pendidikan. Perjalanan ini mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasanlah saya belajar arti perjuangan, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah SWT. Semoga gelar ini menjadi amal jariyah bagi kedua orang tua saya, kebanggaan bagi keluarga, serta motivasi bagi siapa pun yang sedang berjuang meraih cita-citanya.”

Keberhasilan Ibnu Amin meraih gelar Doktor Hukum Islam dengan predikat Cumlaude menjadi bukti bahwa ketekunan, doa, dan kerja keras mampu mengantarkan seseorang mencapai cita-cita tertinggi, terlepas dari latar belakang kehidupan yang dimiliki.

Perjalanan dari Desa Sibak hingga berdiri di podium promosi doktor bukan hanya kisah tentang pencapaian akademik. Lebih dari itu, kisah ini adalah cerita tentang kekuatan doa seorang ibu, keteladanan seorang ayah, dukungan keluarga, pengabdian di masjid, serta keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan.

Karena pada akhirnya, setiap keberhasilan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang ditempuh dengan kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan. maka “Jejak ketekunan tidak pernah mengkhianati hasil.” (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *