Cegah Krisis Kesehatan Mental, RSKJ Soeprapto Sediakan Layanan Konsultasi Psikologis
BENGKULU – Dalam setiap tragedi, perhatian publik sering tertuju pada angka: berapa yang meninggal, berapa yang luka-luka, dan bagaimana kronologi kejadiannya.
Oleh sebab itu Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu hadir untuk mencegah Krisis kesehatan mental lewat layanan konsultasi Psikologis.
Direktur RSKJ seoprapto Bengkulu dr. Herry Permana, MKM mengatakan bagi sebagian orang, selamat dari suatu kecelakaan dianggap suatu keberuntungan . Namun dalam praktik psikologi klinis, “selamat” tidak selalu berarti benar-benar pulih.
” Ada satu hal yang kerap luput dari perhatian bagaimana kondisi mereka yang selamat setelah semuanya berlalu.
Ia juga meninggalkan jejak yang tidak terlihat pada para penyintas luka psikologis,”Ucapnya.
Bagi sebagian orang, selamat dari kecelakaan mungkin dianggap sebagai keberuntungan. Namun dalam praktik psikologi klinis, “selamat” tidak selalu berarti benar-benar pulih.
“Rasa takut itu bisa kembali kapan saja—melalui suara, bau, atau bahkan ingatan yang muncul tiba-tiba,” ucapnya
Dilanjutkan Herry Sebagian penyintas mungkin mengalami kesulitan tidur. Ada yang terbangun di malam hari dengan jantung berdebar, seolah kejadian itu terulang kembali.
“Hal itu adalah respons alami tubuh terhadap pengalaman yang sangat mengancam.Namun, dampak psikologis tidak hanya dirasakan oleh penyintas langsung. Keluarga korban, saksi mata, bahkan masyarakat luas dapat ikut merasakan apa yang dalam psikologi disebut sebagai trauma kolektif”jelasnya.
Direktur RSKJ Soeprapto Bengkulu menegaskan bahwa di sinilah pentingnya pendampingan psikologis yang berkelanjutan. Masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua luka terlihat. Seseorang bisa tampak baik-baik saja di luar, tetapi masih berjuang di dalam.
“Dalam rangka mendukung program Pemerintah daerah Provinsis Bengkulu RSKJ Soeprapto Bengkulu siap mencegah hal tersebut melalui Pendekatan awal seperti Dukungan Psikologis Awal(DPA), tegasnya .
Ia menambahkan pentingnnya untuk menstabilkan kondisi korban. Namun, itu hanyalah langkah pertama. Proses pemulihan membutuhkan waktu, ruang, dan dukungan yang konsisten.
“Pemulihan yang paling mendasar bukan hanya soal “melupakan kejadian”, tetapi mengembalikan rasa aman.
Rasa aman adalah fondasi dari kesehatan mental” tambahnya.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua luka terlihat. Seseorang bisa tampak baik-baik saja di luar, tetapi masih berjuang di dalam.(iie)
