Uncategorized

Jangan Terlambat: RSKJ Soeprapto Sediakan Layanan Psikologi Klinis untuk Dukungan Kesehatan Mental

BENGKULU – Beberapa waktu terakhir, santer kabar begiti mudahnya orang melakukan bunuh diri. Di Bengkulu, cerita-cerita seperti ini bukan lagi sesuatu yang asing. Mungkin tidak selalu menjadi headline besar, tetapi cukup sering terdengar—dari lingkungan sekitar, dari cerita warga, atau bahkan dari orang yang kita kenal.

Setiap kali mendengar kabar tersebut, banyak dari kita bertanya: “Kenapa bisa sampai seperti itu?”

Namun, pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah: “Apa yang sebenarnya ia rasakan sebelum itu terjadi?”

Sebagai seorang psikolog klinis yang telah mendampingi berbagai kasus selama lebih dari satu dekade, saya melihat bahwa bunuh diri hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ia bukan keputusan yang muncul dalam satu malam. Di baliknya, ada proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Ada seseorang yang sudah lama merasa lelah, tetapi tetap terlihat “baik-baik saja”.
Ada yang tersenyum di depan orang lain, tetapi diam-diam merasa hampa. Ada yang ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana—atau takut tidak akan dipahami.

“Bunuh diri bukan tentang ingin mati, tetapi tentang seseorang yang tidak lagi mampu menahan rasa sakit psikologisnya.”

Di Bengkulu sendiri, kami melihat kecenderungan meningkatnya kasus yang berkaitan dengan tekanan psikologis, baik pada orang dewasa maupun remaja. Faktor yang muncul pun beragam: masalah keluarga, tekanan ekonomi, konflik relasi, hingga perasaan gagal dan kehilangan harapan. Pada remaja, situasinya menjadi lebih kompleks dengan adanya tekanan sosial dan pengaruh media digital.

Namun, ada satu benang merah yang hampir selalu muncul: perasaan sendirian.

Banyak individu yang sebenarnya tidak benar-benar ingin mengakhiri hidup. Mereka hanya ingin rasa sakitnya berhenti. Mereka ingin didengar, dipahami, dan ditemani—tetapi tidak menemukan ruang yang aman untuk itu.

Sayangnya, di tengah masyarakat kita, masih ada stigma yang kuat terhadap kesehatan mental. Tidak sedikit yang ketika bercerita justru mendapatkan respons seperti, “Kamu kurang bersyukur”, atau “Jangan lebay”. Niatnya mungkin baik, tetapi kalimat seperti ini sering kali membuat seseorang semakin menutup diri.

Padahal, dalam banyak kasus, satu percakapan yang tulus bisa menjadi pembeda antara seseorang yang bertahan dan yang menyerah.

“Satu orang yang mau mendengarkan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi alasan seseorang untuk tetap hidup.”

Kita juga perlu menyadari bahwa perubahan kecil sering kali menjadi tanda penting. Seseorang yang tiba-tiba menarik diri, lebih pendiam, mudah marah, atau kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu disukai—itu bukan sekadar perubahan biasa. Itu bisa menjadi sinyal bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

Di sinilah peran kita semua menjadi penting.

Bagi keluarga, kehadiran bukan hanya soal fisik, tetapi juga emosional. Mendengarkan tanpa menghakimi, memberi ruang tanpa tekanan, sering kali jauh lebih berarti daripada memberi nasihat panjang.

Bagi sekolah dan lingkungan pendidikan di Bengkulu, penting untuk memastikan bahwa sekolah benar-benar menjadi ruang yang aman, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikologis. Anak-anak dan remaja perlu merasa bahwa mereka punya tempat untuk bercerita, bukan tempat untuk dihakimi atau dibandingkan.

Bagi masyarakat luas, kita perlu mulai mengubah cara pandang. Dari yang semula cepat menilai, menjadi lebih mau memahami. Dari yang terbiasa diam, menjadi berani peduli.

Media juga memiliki peran besar. Cara kita memberitakan sebuah peristiwa bisa berdampak luas. Narasi yang sensasional dapat melukai keluarga yang ditinggalkan, bahkan berisiko memicu kasus serupa. Sebaliknya, pendekatan yang empatik dan edukatif dapat membantu banyak orang merasa tidak sendirian.

Bunuh diri bukan sekadar persoalan individu. Ia adalah cerminan dari bagaimana lingkungan kita merespons penderitaan.

Ketika seseorang merasa tidak punya tempat untuk pulang secara emosional, di situlah risiko terbesar muncul.

Namun, harapan itu selalu ada. Selama masih ada yang mau mendengar, selama masih ada ruang untuk bercerita, dan selama kita tidak menutup mata terhadap mereka yang sedang berjuang—maka selalu ada kesempatan untuk menyelamatkan satu nyawa.(iie)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *