Layanan Psikologis Anak Diperkuat RSKJ Bengkulu
BENGKULU – Suara tangis anak kecil seharusnya menjadi hal yang segera ditenangkan—bukan diabaikan, apalagi dibungkam. Namun, bagi puluhan anak yang pernah dititipkan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, tangisan itu diduga justru menjadi bagian dari keseharian yang tidak pernah benar-benar terdengar oleh dunia luar.
Kasus ini mencuat ke publik setelah kepolisian menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam dugaan kekerasan terhadap anak di tempat penitipan tersebut. Angka yang lebih mencemaskan adalah jumlah korban: sedikitnya 53 anak diduga mengalami perlakuan yang tidak semestinya di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman.
Bagi sebagian orang tua, keputusan menitipkan anak di daycare bukanlah pilihan mudah. Ada kepercayaan besar yang dititipkan di sana—harapan bahwa anak akan dirawat, dilindungi, dan diperlakukan dengan penuh kasih. Namun dalam kasus ini, kepercayaan itu justru diduga berbalik menjadi pengalaman yang menyakitkan.
Awalnya, tidak semua orang tua menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Perubahan pada anak sering kali tampak samar. Ada yang tiba-tiba menjadi lebih pendiam. Ada yang mulai sulit tidur. Ada pula yang menolak saat diajak berangkat ke daycare, menangis tanpa alasan yang jelas.
Sebagian orang tua mungkin mengira itu hanyalah fase. Namun, bagi beberapa anak, perubahan tersebut adalah bahasa diam dari sesuatu yang tidak mampu mereka ceritakan.
Dalam dunia psikologi klinis, kondisi seperti ini bukan hal yang asing. Anak-anak, terutama di usia dini, belum memiliki kemampuan verbal yang cukup untuk menjelaskan pengalaman yang menyakitkan. Mereka “berbicara” melalui perilaku—melalui ketakutan, perubahan emosi, atau penolakan terhadap situasi tertentu.
Wendri Surya Pratama, M.Psi., Psikolog, psikolog klinis di UPTD Khusus RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu, menjelaskan bahwa pengalaman kekerasan di usia dini dapat meninggalkan dampak yang jauh lebih dalam dari yang terlihat.
“Anak belajar tentang dunia dari pengalaman awalnya. Ketika tempat yang seharusnya aman justru menjadi sumber ketakutan, itu dapat mengganggu rasa percaya dasar mereka terhadap orang lain dan lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak yang mengalami kekerasan tidak selalu mampu mengungkapkan apa yang mereka alami secara langsung.
“Sering kali mereka tidak bisa bercerita dengan kata-kata. Yang muncul justru perubahan perilaku—menjadi lebih takut, menarik diri, atau justru lebih mudah marah. Ini adalah bentuk komunikasi dari pengalaman yang tidak mereka pahami sepenuhnya,” tambahnya.
Yang membuat kasus ini semakin kompleks adalah kemungkinan bahwa kekerasan terjadi secara berulang dan melibatkan lebih dari satu pelaku. Dalam situasi seperti ini, anak tidak hanya mengalami ketakutan, tetapi juga kehilangan rasa kendali dan perlindungan.
Lebih jauh lagi, anak-anak yang menjadi korban sering kali tidak hanya membutuhkan pemulihan fisik, tetapi juga pendampingan psikologis jangka panjang. Trauma pada anak tidak selalu muncul secara langsung. Ia bisa tersimpan, lalu muncul di kemudian hari dalam bentuk kecemasan, kesulitan berinteraksi, atau masalah perilaku.
Wendri menekankan pentingnya penanganan yang tepat sejak awal.
“Pendampingan psikologis perlu dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan. Yang paling utama adalah mengembalikan rasa aman anak, karena itu adalah fondasi utama dalam perkembangan psikologis mereka,” jelasnya.
Kasus Little Aresha juga membuka pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana pengawasan terhadap lembaga penitipan anak selama ini berjalan?
Di tengah meningkatnya kebutuhan orang tua untuk bekerja, daycare menjadi bagian penting dalam sistem pengasuhan modern. Namun, tanpa pengawasan yang memadai, tempat yang seharusnya menjadi solusi justru dapat menjadi sumber risiko.
Bagi para orang tua, kejadian ini menjadi pengingat bahwa perubahan sekecil apa pun pada anak perlu diperhatikan.
Wendri menambahkan,
“Orang tua perlu peka terhadap sinyal-sinyal kecil. Jika anak tiba-tiba menolak pergi ke suatu tempat atau menunjukkan perubahan emosi yang signifikan, penting untuk tidak mengabaikannya.”
Bagi masyarakat, ini adalah panggilan untuk lebih peduli terhadap perlindungan anak di sekitar kita.
Dan bagi para korban kecil itu, yang mungkin belum sepenuhnya memahami apa yang telah mereka alami, satu hal yang paling penting adalah memastikan bahwa mereka kini berada dalam lingkungan yang aman—tempat di mana tangisan mereka didengar, dipahami, dan direspons dengan kasih sayang.
Kasus ini masih bergulir dalam proses hukum. Namun di luar itu, ada proses lain yang tidak kalah penting: proses pemulihan.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan, tetapi juga masa depan puluhan anak yang berhak tumbuh dengan rasa aman dan kepercayaan bahwa dunia adalah tempat yang layak untuk mereka jalani.(iie)
